KISAH KAMPUNG KOLAM
|
Ini adalah kisah tentang sebuah kampung. Konon, kampung ini
dulunya merupakan basis PKI di tahun 1965. Misteri demi misteri pun terkuak
dalam rangkaian cerita. Inilah dia kisah tentang Kampung Kolam yang namanya
telah berubah menjadi Desa Kolam.
|
||
Desa ini letaknya cukup jauh dari Kota Medan. Bisa dibilang
berada di pedalaman Tembung,Deliserdang. Menuju ke sana bisa dari dua arah.
Lewat Jalan Bandar Setia Tembung atau Pasar X Tembung. Cukup mudah menemukan
desa ini, karena kita cuma mengikuti jalan lurus yang beraspal. Sesampainya
di sana, apa yang dibayangkan sebelumnya ternyata tidak terjadi. Soalnya
sebelum ke sana, tim Medan Bisnis sempat diwanti-wanti harus hati-hati. Ada
juga yang menakut-nakuti, bahkan sampai memasang mimik wajah kaget dan
menakutkan.
Namun apa yang dikatakan orang-orang tidak perlu dikhawatirkan, karena suasana di sana begitu nyaman, aman, dan sejuk. Tidak ada kesan angker penuh mistik. Rambu-rambu bahaya pun tidak dijumpai di sepanjang perjalanan. Soalnya wajah Desa Kolam sekarang sangat jauh berbeda dengan yang dulu. Di tengah perjalanan, saya melihat seorang kakek tua tengah duduk merenung di depan gubuk reyot. Tubuhnya tidak terbungkus baju, sementara dari mulutnya mengepul asap rokok yang dihembusnya dengan penuh nikmat. Saat mendekat dan bertanya, ternyata gubuk itu adalah tempat tinggalnya yang juga disulap menjadi warung kecil. Letaknya di Dusun XVI, Desa Kolam Kecamatan Percut Sei Tuan, Deliserdang. Panggilanya adalah Mbah Tolu. Seorang kakek berumur 107 tahun dan sudah puluhan tahun menetap di Desa Kolam Meski sudah sangat tua tapi Tolu tidak pikun. Dia masih ingat bagaimana wajah Desa Kolam dulu. "Wah, kalau dulu masih kampung kalilah. Rumah pun satu-satu. Jalannya pun jalan tikus" ceritanya mengawali kisah. Seperti yang digambarkan Tolu, Desa Kolam ini dulunya adalah perkampungan yang sepi. Dipenuhi ladang, perkebunan, dan hutan. Jumlah penduduknya masih sedikit. Rumah yang satu dengan yang lain, jaraknya berjauhan. Bisa dibilang, dulu rumah penduduk masih satu-satu. "Desa Kolam ini banyak perkebunan tembakau. Setelah banyak pendatang yang masuk, mereka mulai menggarap tanah untuk dijadikan tempat tinggal dan ladang," ungkapnya dengan bahasa yang sedikit celad. Jalan lintas yang tersedia dulunya juga masih jalan setapak, berbatu, dan tidak beraspal. Sementara di kanan dan kiri jalan ditumbuhi ilalang. Saat hujan melanda akan berlumpur. Bila matahari sedang terik, maka panas tanah bisa melepuhkan telapak kaki.
Di kala malam menjelang, kampung akan sepi dan gelap. Maklum,
saat itu tidak ada listrik dan rumah penduduk masih sedikit. Kalau ingin
jalan malam, alat bantu penerangannya hanya obor atau lampu semprong.
"Ya, dulu kan nggak ada listrik. Jadi rumah-rumah pakai
lampu semprong untuk penerangan. Kalau mau keluar malam ya pakai obor atau
lampu sempronglah. Tapi kalau pas terang bulan gak perlu. Soalnya kan udah
terang. Jadi nggak perlu pakai penerangan lagi" kata Tolu.
Air bersih juga tidak ada. Karena itu, di setiap rumah penduduk memiliki sumur bor. Air sumur itu dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Mulai dari untuk air minum, mandi, mencuci, memasak, dan lain sebagainya.
Hingga sekarang pun sumur bor tetap menjadi pilihan penduduk
Desa Kolam, dibandingkan air bersih dari PAM. "Wong air sumurnya juga
bagus kok. Jernih. Saya aja sampai sekarang pakai air sumur untuk minum. Di
sini rata-rata pakai air sumur. Sumurnya dibuat pakai semen, jadinya bagus dia" ujar Tolu lagi.
Memang, sekarang keadaan Desa Kolam sudah lebih maju dan modern.
Jalannya tidak lagi jalan tikus, melainkan sudah diaspal dan lebar. Di kanan
dan kiri jalan tidak lagi ilalang, tapi sudah halaman rumah orang. Listrik
juga sudah masuk desa. Begitu juga dengan air bersih.
Penduduknya mulai padat. Rumah-rumah kian berdempetan, meski masih tampak ladang-ladang berhamparan. Kerennya lagi, rata-rata penduduknya sudah pakai Hp. Namun satu hal yang tidak berubah. Dari dulu hingga sekarang rutinitas penduduk Desa Kolam adalah berladang. Baik menggarap ladang sendiri maupun bekerja dengan orang lain.
Berbagai macam tumbuhan ditanam. Tapi hampir rata-rata adalah
sayur dan buah-buahan seperti, sawi, gambah, cabai, ubi, pepaya, bayam, dan
lainnya. Meskipun ada juga yang menggarap sawah. "Di sini kalau tidak
berladang, ya penduduknya kerja bangunan. Tapi rata-rata mereka
berladanglah," jelas Tolu.
Hasil panen, mereka jual ke pasar atau pekan yang ada di Kota
Medan. Ada juga yang dijual diseputaran Desa Kolam, namun tidak terlalu
banyak. "kalau orang sini semua ngeladang. Dulu jual sayuran itu masih
pakai sepeda. Jalannya masih jalan tikus waktu itu. Jualnya ke pekan yang ada
di Medan. Cuma itu. Sangkin jauhnya, sampai jam 10 siang baru sampai ke sana.
Kalau dulu kan belum ada motor. Jalanya pun kecil dan belum diaspal. Malah
lalang melulu," tutur Tolu dengan sedikit logat Jawa.
Ikatan kekeluargaan pun masih erat antar satu penduduk dengan
penduduk lain. Namun kondisinya tentu saja sangat berbeda sekarang ini,
karena penduduknya tidak lagi bisa dihitung dengan jari."Sekarang sudah
makin maju. Rumah-rumah pun sudah mulai rapat. Angkot pun ada, meski tak
seramai kota. Adalah sedikit perbedaannya" ucapnya.
Seingat Tolu, tahun 90-an Desa Kolam sudah berubah wajah. Mulai
ramai dan mengalami pembangunan. Listrik dan air bersih mulai masuk desa.
Namun tetap aman dan nyaman. Tidak hanya rumah penduduk yang tumbuh, komplek
perumahan juga mulai muncul di beberapa titik. Untuk wilayah Desa Kolam saja
ada 7 komplek perumahan dari developer yang berbeda. Dua komplek perumahan
sudah ramai penghuni, tiga komplek lainnya belum berpenghuni namun sudah siap
jual, sedangkan 2 komplek lagi masih dalam proses pembangunan.
Harga tiap rumah lumayan terjangkau. Sekitar Rp 40 juta atau lebih, tergantung lokasi dan tipe rumah. Namun dari pantauan tim MedanBisnis, tipe rumah yang dibangun dikomplek-komplek tersebut adalah tipe 45/91m2 dan 54/11,2,5m2.
Berdasarkan data yang didapat dari kantor Desa Kolam, Kecamatan
Percut Sei Tuan, Deliserdang, saat ini jumlah keseluruhan warga Desa Kolam
dari dusun I-XII ada 14.825 jiwa. Jumlah KK-3.097, warga berjenis kelamin
laki-laki ada 7.875 jiwa, dan perempuan ada 6.950 jiwa.
Untuk warga negara asing (WNA), jumlah KK-13 orang, laki-laki ada 37 orang, dan perempuan ada 32 orang. Jadi totalnya ada 69 orang. Sedangkan warga yang memeluk agama Islam ada 13.350 orang, Kristen-547 orang, Buddha-73 orang, dan Hindu-15 orang. Sementara tempat ibadah ada 5 masjid, 14 musholla, 3 gereja, dan 1 vihara.
Sedangkan untuk gedung sekolah, jumlahnya tidak banyak. Hanya
ada 2 gedung sekolah, yakni untuk tingkat SD dan SMP. Sementara untuk
melanjutkan kejenjang SMA, banyak diantaranya harus keluar dari Desa Kolam
untuk melanjutkan sekolah.
Karena banyaknya pendatang, kini penduduk yang tinggal di Desa
Kolam mulai beragam. Dari agama hingga sukunya. Ada suku Batak, Melayu, dan
mayoritas adalah Jawa. "Wong di sini orang Batak pun ngomongnya pakai
bahasa Jawa kok?" celoteh Tolu sambil tertawa.
Namun soal sejarah nama mengapa desa itu dulunya disebut Kampung Kolam, Tolu tidak begitu tahu pasti. Tapi seingatnya dari cerita orang-orang tua sebelumnya, nama itu muncul karena dulunya tanah di desa ini berlumpur, becek, berawa-rawa, dan rendah sekali. "Tapi sekarang ini sudah pulih. Sekarang ada parit besar untuk saluran air. kalau dulu banjir ya banjir. Kadang-kadang seminggu baru kering. Kalau sekarang 1 hari aja udah kering. Tapi banjirnya pun kalau hujan deras atau pas-pas musim hujan. Kalau nggak, ya nggak" katanya. |